Di Jalan Merdeka No. 194, Sukorejo, berdiri sebuah bangunan merah emas yang tak sekedar indah dipandang. Kelenteng Poo An Kiong adalah saksi panjang jejak Tionghoa di Kota Blitar. Didirikan sekitar tahun 1829 pada masa Hindia Belanda, kelenteng ini dikenal sebagai tempat ibadah Tridharma (Konghucu, Tao, dan Buddha) tertua di kota ini sebuah penanda sejarah yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Nama Poo An Kiong bermakna keselamatan dan perlindungan. Harapan itu tercermin dalam arsitekturnya yang khas yaitu atap berhias huo zhu (mutiara api) diapit dua naga (Xing Long), simbol energi, kepemimpinan, dan kebahagiaan. Warna merah melambangkan keberuntungan, sementara emas menghadirkan kemuliaan.
Namun perjalanan kelenteng ini tidak selalu mulus. Pada 22 November 2021, kebakaran hebat melanda dan menghanguskan sebagian besar bangunan utama. Aktivitas ibadah sempat terhenti. Dari peristiwa itu, lahir solidaritas. Dana dan dukungan mengalir dari berbagai pihak, para pengurus dan relawan bahu-membahu membangun kembali rumah ibadah ini.
Akhir 2025 menjadi babak baru. Kelenteng kembali berdiri kokoh dengan struktur tiga lantai basement, aula, dan ruang utama lebih luas dan representatif, namun tetap setia pada ciri tradisionalnya. Ruang altar dewa-dewi di lantai dua kini membentang 11 x 36 meter. Aula terbuka di lantai satu mampu menampung sekitar 300 orang untuk perayaan dan pertemuan. Tiga pintu utama pun menyimpan makna, pintu kanan untuk masuk membawa harapan baik, pintu tengah untuk upacara besar, dan pintu kiri sebagai jalan keluar.
Aroma dupa kembali memenuhi ruang sembahyang. Relief naga, patung dewa, dan lilin raksasa menghiasi setiap sudut, termasuk 36 Panglima Langit yang dipercaya menguasai dunia atas. Dalam waktu dekat, pengurus juga merencanakan menghadirkan Dewa Jodoh, Yue Xia Lao Ren, yang diyakini membawa harapan pertemuan jodoh bagi umat yang berdoa dengan sungguh-sungguh.
Kini, di momen Imlek yang sarat makna pembaruan, Kelenteng Poo An Kiong bukan hanya tampil dengan wajah baru tetapi juga menghadirkan harapan baru. Ia bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang sejarah, budaya, dan toleransi yang hidup di Kota Blitar.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Kota Blitar, singgah di kelenteng ini adalah cara sederhana untuk merasakan denyut keberagaman yang telah tumbuh ratusan tahun di Bumi Bung Karno.
Narasumber: Endang Titis Bodro Triwarsi
Sumber: Kompas.com (2026), Media Blitar (2023), Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (2018)